ANTARA LOBI DAN KOPI

Kita sering mendengar kata lobi (lobby), bahkan mungkin pernah dan sering mempraktikkannya, sampai ada yang mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa dilepaskan dari unsur lobi, benar? Lantas apa itu lobi dan bagaimana sejarahnya? Dan apa hubungan antara lobi dan kopi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lobi berarti kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memengaruhi orang lain dalam kaitannya dengan pemungutan suara menjelang pemilihan ketua suatu organisasi, seperti parlemen dan partai politik.

Sumber Wikipedia mengatakan, lobi adalah aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan tujuan memengaruhi pimpinan organisasi lain maupun orang yang memiliki kedudukan penting dalam organisasi dan pemerintahan sehingga dapat memberikan keuntungan untuk diri sendiri ataupun organisasi dan perusahaan pelobi.

Menurut kamus Webster, lobi berarti melakukan aktivitas yang bertujuan memengaruhi pegawai umum dan khususnya anggota legislatif dalam pembuatan peraturan. Lobi juga dilihat sebagai sebuah (bentuk) tekanan oleh sekelompok orang yang mempraktikkan seni mendapatkan teman yang berguna dan memengaruhi orang lain.

Aktivitas melakukan pendekatan secara tidak resmi disebut melobi (lobbying), sedang orang yang melakukannya disebut pelobi (lobbyist).Biasanya lobi dilakukan dalam kondisi tidak resmi (informal), bisa dilakukan oleh individu maupun kelompok/organisasi atau bisa juga melibatkan pihak ketiga/perantara (Perusahaan lobi).

 

Sejarah

Taukah Anda sejarah penggunaaan kata lobi sebagai aktivitas komunikasi/pendekatan untuk memengaruhi orang lain? Karena di dalam KBBI kata lobi juga bisa berarti, ruang teras di dekat pintu masuk hotel (bioskop dan sebagainya), dilengkapi dengan perangkat meja, kursi yang berfungsi sebagai ruang duduk atau ruang tunggu.

Kata lobi berasal dari kata lobbyist, yang merujuk pada orang-orang yang berkumpul di lobi sebuah hotel di Amerika Serikat. Sejarahnya adalah, dulu ada salah satu Presiden Amerika Serikat yang memiliki kebiasaan setiap waktu istirahat siang, dia keluar dari gedung putih untuk sekedar minum kopi di sebuah hotel di Washington. Setelah memesan kopi, sang presiden biasanya duduk di lobi hotel sambil santai menikmati kopi yang terhidang.

Masyarakat (kelas menengah ke bawah) yang mengetahui kebiasaan sang presiden, memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui sekaligus menyampaikan aspirasi, uneg-uneg, permasalahan yang mereka rasakan sehari-hari. Alhasil, setiap hari lobi hotel tersebut selalu ramai orang yang datang berbondong-bondong untuk bertemu dengan sang presiden.

Karena merasa terganggu, manajer hotel dengan sinis menjuluki orang-orang yang berkumpul di lobi hotelnya sebagai kaum lobbyist. Istilah lobbyist jadi semakin sering diucapkan, sehingga banyak orang yang mulai mengenal kata pelobi (lobbyist) untuk merujuk kepada sekelompok orang yang melalukan upaya memengaruhi dengan pendekatan kepada penguasa.

Akhirnya, sampai sekarang kita mengenal istilah lobi (lobbying) yang berarti aktivitas memengaruhi orang lain, dan istilah pelobi (lobbyist) yang berarti orang yang melakukan lobi. Ternyata dari sejarahnya istilah tersebut berasal dari aktivitas di sebuah lobi (ruangan terbuka di dekat pintu masuk) sebuah hotel di Washington, Amerika Serikat.

 

Lobi Kopi

Bagi penikmat kopi, ngopi sudah menjadi budaya hidup.  Dengan kopi mereka banyak melakukan berbagai macam pekerjaan seperti: lobi politik, bisnis, menerima tamu, diskusi, mengerjakan tugas, atau hanya nonton bareng dan beragam pekerjaan sehari-hari lainnya.

Jangan heran jika banyak lobi-lobi dilakukan di warung kopi, karena ngopi selain membuat rileks dan tenang, faktanya banyak keputusan besar, deal-deal dalam bisnis, ekonomi, maupun politik, dll diputuskan sambil nyruput kopi. Karena kalau kita melihat dari sejarah diatas, antara lobi dan kopi jelas memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.

Anda memiliki permasalahan yang harus diselesaikan melalui proses lobi dan negosiasi? Sudahkah Anda ngopi hari ini? Mari kita ngopi…. 🙂

 

Febriansyah Trainer

Profesional Trainer, Writer, Entrepreneur, Blogger and Traveler

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: