GAYA KOMUNIKASI (COMMUNICATION STYLE)

Gaya komunikasi dapat diartikan sebagai cara seseorang berinteraksi baik dengan verbal maupun nonverbal, untuk memberi tanda  bagaimana arti yang sebenarnya harus dipahami atau dimengerti. Banyak orang yang memahami konten dengan baik, tetapi  pesan komunikasinya tidak sampai atau tidak dapat diterima dengan baik oleh orang lain karena disampaikan dengan gaya komunikasi yang kurang tepat. Gaya komunikasi terkadang menjadi lebih penting dari konten komunikasi.

Macam-macam gaya komunikasi menurut Tubbs dan Moss (2008), antara lain:

  1. The Controlling Style

Gaya komunikasi ini bersifat mengendalikan, terlihat dari adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa, dan mengatur perilaku, pikiran, dan tanggapan orang lain. Orang yang menggunakan gaya komunikasi ini biasanya disebut komunikator satu arah (one way communication).

-Contoh Tokoh: Megawati Soekarno Putri

 

  1. The Equalitarian Style

Gaya komunikasi ini bersifat kesamaan, ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis dan bersifat dua arah (two way communication). The Equalitarian Style memudahkan komunikasi antara satu dengan yang lainnya dan atau dalam sebuah kelompok/organisasi.

– Contoh Tokoh: BJ. Habibie

 

  1. The Structuring Style

Gaya komunikasi ini bersifat terstruktur, memanfaatkan pesan verbal secara tertulis maupun lisan untuk memperjelas pesan yang ingin dilaksanakan agar dapat mempengaruhi orang lain. Contohnya seseorang yang memiliki kemampuan merencanakan pesan-pesan verbalnya guna memantapkan, memperjelas, dan menegaskan tujuan komunikasi, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

-Contoh Tokoh: SBY

  1. The Dinamic Style

Gaya komunikasi ini bersifat dinamis dan memiliki kecenderungan agresif. Biasanya komunikator/pengirim pesan memahami bahwa lingkungannya berorientasi pada tindakan. Gaya komunikasi ini cukup efektif untuk mempengaruhi komunikan/penerima pesan agar melakukan sesuatu dengan lebih baik.

-Contoh Tokoh: Habib Rizieq Shihab

 

  1. The Relinguishing Style

Gaya komunikasi ini bersifat asertif, terlihat dari adanya kesediaan menerima ide, saran, pendapat, gagasan, serta masukan dari orang lain, daripada keinginan untuk memberikan perintah, meskipun komunikator/penerima pesan memliliki hak untuk memberi perintah atau mengontrol orang lain.

 

Gaya komunikasi ini sangat efektif diterapkan dalam sebuah kelompok/organisasi karena memungkinkan mengakomodir aspirasi dari semua anggota kelompok/organisasi sehingga pesan dapat dipertanggungjawabkan.

-Contoh Tokoh: GusDur

 

  1. The Withdrawl Style

Gaya komunikasi ini bersifat mengalihkan permasalahan. Gaya komunikasi ini juga membuat seseorang enggan untuk berkomunikasi dengan orang lain karena adanya hambatan yang dihadapi antar pribadi orang-orang tersebut. Misalnya kalimat seperti, “I don’t read what i sign”. Pernyataan tersebut biasanya digunakan seseorang untuk melepaskan diri dari tanggung jawab atau menghindar dari berkomunikasi dengan orang lain.

-Contoh Tokoh: Jokowi

Febriansyah Trainer

Profesional Trainer, Writer, Entrepreneur, Blogger and Traveler

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: