KISAH ANAK LEMANG (Bagian 2 Akhir)

Masih ingat dengan Kisah Anak Lemang Bagian 1??? sebelum melanjutkan membaca Kisah Anak Lemang Bagian 2, silakan dibaca kembali Kisah Anak Lemang Bagian1.

 

“Hijrah” dan Impian di masa Putih-Abu abu

Setelah lulus SMP, Rian melanjutkan studinya ke SMA, Rian bersekolah di SMA unggulan di Lahat. Rian mulai ikut  organisasi ROHIS. Dalam segi agama, Rian mulai aktif dalam berbagai kegiatan. Prestasi akademisnya juga meningkat bahkan masuk dalam tiga besar siswa berprestasi. Rian yang mulai dewasa semakin tahu tujuan hidupnya, bahkan dia membuat daftar impian yang ingin dicapainya. Beberapa impian yang ingin diraihnya adalah menjadi presiden, menikah saat kuliah, dan bisa kuliah di luar negeri. Waktu SMA, Rian gemar membaca buku-buku keislaman dan buku-buku tentang pernikahan. Pantas saja dia memiliki impian untuk segera menikah. Sayang, impian itu menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Mereka bilang bahwa mustahil impian itu bisa tercapai.

“Hahaha… punya impian kok jadi presiden? Kita kan dari desa kecil kayak gini?”

“Orang kampung mau ke luar negeri?! Jangan ketinggian deh ngimpinya!”

“Serius mau menikah saat kuliah? Hahaha”

Rian tidak peduli dengan tertawaan teman-temannya. Dia tetap yakin bahwa suatu saat impian-impiannya tersebut akan terwujud. Keinginan Rian untuk menikah pun sempat diutarakannya kepada kedua orang tuanya. Rian melobi kedua orang tuanya untuk menikah setelah lulus SMA. Sayangnya, kedua orang tua Rian tidak setuju dengan keinginan ‘nekat’ putra bungsunya ini. Kedua orang tua Rian menginginkan anak laki-laki satu-satunya mereka ini melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Pemuda itu pun patuh pada nasihat kedua orang tuanya, dia tak ingin mengecewakan mereka.

Kampus dan Perubahan

Setelah lulus SMA, Rian diterima di salah satu universitas negeri terbesar di Sumatera Selatan. Rian yang sejak SMA sudah aktif di organisasi, kembali menjelma menjadi aktivis di kampusnya. Rian bergabung dalam Lembaga Dakwah di Fakultasnya, juga organisasi pergerakan mahasiswa eksternal kampus. Rian sering mengikuti aksi demonstrasi untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat. Dari sisi akademis, Rian masih berprestasi di kampus. jadi selain aktif di organisasi mahasiswa Rian juga mahasiswa berprestasi.

Tahun 2008 Rian terpilih menjadi Presiden BEM di kampusnya setelah melalui pemilihan umum raya mahasiswa (PEMIRA). Amanah  ini membuatnya lebih sering belajar di jalan daripada di ruang kuliah. Kerap kali Rian memimpin aksi-aksi di jalanan. Hal tersebut justru membuat Rian semakin mengerti arti kehidupan. Bahkan Rian sangat bersyukur karena salah satu impiannya saat SMA terwujud yakni menjadi seorang presiden. Betul juga kan? Meski baru menjadi presiden mahasiswa, ya mungkin suatu saat dia bisa menjadi Presiden RI, begitu pikir Rian.

Salah satu momen paling luar biasa dalam hidup Rian saat di bangku kuliah adalah menjadi salah satu mahasiswa yang beruntung mendapatkan  beasiswa untuk mengikuti pertukaran mahasiswa ke Beijing China. Rian pernah mengikuti short course di tiga kampus: Foreign Beijing University, Tsinghua University , dan Beijing University. Alhamdulillah, impian Rian saat SMA kembali terwujud, bisa keluar negeri dibiayai oleh pemerintah/negara sebagai duta mahasiswa di Beijing China.

Sebelum lulus kuliah S1 Rian sudah bekerja sebagai Profesional Trainer di sebuah Lembaga Manajemen Terapan di Kota Palembang. Ia kerap kali diundang untuk menjadi pembicara publik pada acara training, seminar, workshop oleh sekolah, kampus, instansi pemerintah, perusahaan swasta, organisasi, dan komunitas yang ada di Sumatera Selatan. Akhir tahun 2011, Rian diminta untuk menjadi Asisten Pribadi (Aspri) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Hal ini membuat Rian hijrah ke Jakarta meskipun skripsinya belum selesai. Rian mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya di bangku kuliah. Jiwa aktivisnya pun sangat menunjang semua pekerjaannya. Hal ini membuatnya agak terlena karena tidak segera menyelesaikan skripsi padahal batas waktunya tinggal sebentar lagi, bahkan dari pihak kampus sudah memberikan ‘peringatan DO’ untuknya.

Kondisi tersebut membuat Rian sempat galau,  orang tuanya sangat berharap Rian segera menyelesaikan studi S1-nya dan wisuda, disisi lain posisi Rian sudah stay di Jakarta. Dalam kegalauannya Rian memperbanyak doa dan shalat istikharah meminta petunjuk kepada Allah swt. Ia juga berkonsultasi dengan guru ngajinya (ustadz), yang kemudian memberikan solusi diantaranya adalah agar Rian menikah. What??? Iya solusinya adalah MENIKAH!

Akhirnya Rian dikenalkan dengan seorang muslimah yang saat itu sedang studi S2 di kampus negeri Bandung. Guru ngaji muslimah itu adalah istri sahabat karib ustadznya. Rian mantap untuk menikah dengan muslimah yang baru dikenalnya itu. Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya dan ustadznya,  Rian “nekat” mendatangi kedua orang tua sang muslimah di saat muslimah tersebut masih menjalankan ujian mid semester. Sebulan setelah pertemuan itu Rian membawa kedua orang tuanya untuk melamar sang muslimah. Setelah disepakati, sebulan setelahnya mereka akan melangsungkan pernikahan.

Kemudahan dalam menggenapkan agama

Dalam proses yang relatif cepat itu, Rian meyakinkan dirinya bahwa Allah telah memilihkan calon pendamping hidup yang terbaik untuknya. Rian tenggelam dalam istikharah panjangnya yang  membuatnya semakin yakin bahwa pilihannya insya Allah tepat.

Meski sang muslimah meminta Rian untuk memberikannya mahar salah satunya berupa hafalan QS Ar Rahman, Rian menyanggupinya karena saat SMA Rian pernah menghafalkan salah satu surat dalam Alquran yang ia sukai itu.

Pernikahan Rian pun berlangsung dengan sangat khidmat. Hal ini membuat Rian sangat bersyukur karena salah satu impian yang ia tulis saat SMA kembali terwujud, yakni menikah saat masih kuliah (belum lulus S1). Rian menikah dengan seorang muslimah shalihah, seorang PNS di instansi pemerintah pusat, juga seorang penulis. Status yang terakhir ini sangat membantu Rian dalam menyelesaikan penulisan skripsinya, sehingga ia dapat mengikuti ujian komprehensif skripsi pada kesempatan terakhir (last time). Dan akhrinya Rian pun lulus kuliah dan saat diwisuda ia didampingi istrinya, tak sekadar pendamping wisuda, tapi juga pendamping hidup.

Filosofi Lemang

Demikianlah sedikit kisah inspiratif Rian, sang Anak Lemang. Neneknya memang penjual lemang, tetapi sedari kecil Rian dididik dengan menggunakan filosofi lemang.  Pertama, lemang itu dimasak dengan beras ketan pilihan dan berkualitas. Itu artinya kedua orang tua Rian mendidik anak-anaknya dengan ajaran yang berkualitas. Kedua, dengan menggunakan ruas bambu yang bagus, itu artinya orang tua Rian mendidik dalam lingkungan yang baik. Ketiga, memasak lemang itu butuh waktu yang lama, Ini melatih kesabaran. Keempat, dalam memasak lemang, bambu dibakar langsung di atas bara api agar lebih nikmat. Hal ini berarti orang tuanya menempa anak-anaknya dengan prinsip “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Hasilnya indah. Kelima, beras ketan tidak langsung dimasukkan ke dalam ruas bambu tapi dibungkus daun pisang terlebih dahulu. Ini menjadi inti dari filosofi lemang bahwa pendidikan agama menjadi ‘selimut’ dalam penjagaan dan pendidikan yang diterapkan kedua orang tua Rian.

Saat ini Rian bekerja sebagai Tenaga Ahli Anggota DPR-RI, Direktur FAST manajemen Indonesia, juga seorang Profesional Trainer, Writer, Entrepreneur, Blogger, dan Traveler. Ia tinggal bersama istrinya di kota Depok, Indonesia.

Bercita-citalah yang BESAR, karena akan berbanding lurus dengan motivasi dan usaha yang kita keluarkan untuk mewujudkannya. Semakin besar cita-cita seseorang, maka orang tersebut akan memiliki motivasi yang besar dan seiring semakin besar pula tantangan yang dihadapinya maka orang tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Sebaliknya, semakin kecil cita-cita seseorang, maka orang tersebut tidak cukup besar memiliki motivasi, bahkan cenderung menyepelekan apa yang menjadi cita-citanya sendiri.

 

Semoga bermanfaat dan menginspirasi banyak orang. Terimakasih

Febriansyah Trainer

Profesional Trainer, Writer, Entrepreneur, Blogger and Traveler

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: