KOMUNIKASI KELOMPOK; TRADISI SIBERNETIKA

Tradisi sibernetika melihat komunikasi kelompok bukan pada individu saja tetapi pada sistem kelompok, interaksi antar sistem dan proses pengolahan input-output dalam kelompok lewat percakapan.

Dalam pandangan Littlejohn, tradisi sibernetika mengkaji komunikasi kelompok sebagai upaya membentuk dan mengelola kelompok lewat percakapan berkonteks kelompok dimana terdapat kesatuan dari sistem kelompok, interaksi antar sistem dan proses pengolahan input-output dalam kelompok lewat percakapan.

Teori Kelompok Terpercaya (Bona Fide Group Theory)

Pandangan ini menekankan bahwa kelompok tidak terlepas dari sistem atau lingkungan yang lebih luas. Kelompok merupakan area yang bisa ditembus atau dibentuk sehingga tidak selalu ada kondisi “didalam” dan “diluar” kelompok dan pembentukan serta keberlangsungan kelompok sangat bergantung pada dukungan lingkungan disekitarnya.

Oleh karena itu, untuk menjadi sebuah kelompok justru sangat bergantung dalam penyesuaian dengan lingkungan melalui proses komunikasi. Dari konstruksi Teori Kelompok Terpercaya, menjelaskan adanya keterkaitan kelompok dengan lingkungan maka batasan dari kelompok itu sendiri bukanlah hal mutlak. Kepercayaan individu (keterandalan) dalam kelompok justru dijalin dalam komunikasi yang melibatkan lingkungan termasuk kelompok yang lain. Interaksi dan percakapan yang melibatkan kelompok lain dan sistem lingkungan akan menunjukan loyalitas individu itu sendiri terhadap kelompoknya.

Selain itu, teori ini juga menjelaskan ada masa atau situasi dimana kelompok tidak terandalkan atau tidak mampu mengandalkan interaksi dengan lingkungan, dengan kata lain terjadi ketidakkompakan kelompok yang disebut liminality. Pandangan dari Teori Kelompok Terpercaya ini memberikan perluasan bahwa sebuah kelompok merupakan ruang sebagai proses mengolah input dan menciptakan output bagi kelompok; kelompok sendiri dimaknai sebagai kesatuan interaksi suatu sistem.

Model Input-Proses-Output (the Input-Process-Output Model)

Teori kedua yaitu Model Input-Process-Output. Pandangan dari konstruk ini mengatakan kelompok sebagai sistem sibernetika; dalam kelompok terjadi skema proses/sistem: a) informasi dan pengaruh lingkungan kepada kelompok (input), b) kelompok mengolah informasi tersebut (process), dan c) hasilnya mempengaruhi individu dalam atau di luar kelompok (output).

Sebagai contoh konstruksi dari Model Input-Process-Output; memfokuskan pada faktor yang mempengaruhi kelompok, misalnya heteroginitas anggota (input), berinteraksi semisal dalam bentuk keberagaman gaya bicara (process), dan menghasilkan kepuasan dari anggota kelompok (output). Konstruksi dari Model Input-Process-Output, menekankan rangkaian interaksi dari keberagaman individu untuk bertransformasi dalam kelompok mengatasi persoalan kelompok itu sendiri. Dalam pandangan Raymond Cattle ini yang disebut sebagai synergy untuk menjelaskan rangkaian Model Input-Process-Output tadi; pada skema yang terkait persoalan antar individu dalam kelompok disebut intrinsic synergy dan terkait persoalan hubungan (tugas) atau peran individu dalam kelompok disebut effective synergy.

Dari Model Input-Process-Output ini, Littlejohn memberikan topik lanjutan tradisi sibernetika dalam kajian komunikasi kelompok. Model Input-Process-Output memberikan hantaran dua hal atau variasi mengenai komunikasi kelompok yaitu a) sistem dan model komunikasi dalam kelompok merupakan sebuah interaksi serta, b) keberadaan keberagamaan di dalam yang dapat digunakan untuk melihat keefektifan interaksi komunikasi kelompok tadi.

Selanjutnya, topik ketiga dalam pandangan Littlejohn mengenai komunikasi kelompok terkait terbentuk dan mengelola kelompok dari tradisi sibernetika adalah interaction. Konstruksi teori dari topik interaction yaitu Fisher’s Interaction Analysis; justru mempertajam gagasan dari Bales, B. Aubrey Fisher dan Leonard Hawes memperhatikan faktor tindakan atau perilaku individu sebagai kunci interaksi dalam kelompok. Sebab interaksi merupakan bentuk rangkaian tindakan yang berkaitan dengan individu dalam kelompok.

Menurut Fisher dan Hawes, interaksi sebagai sebuah tindakan atau perilaku antar individu dalam kelompok digolongkan dalam dua dimensi yaitu, dimensi isi dan dimensi hubungan. Pada dimensi isi dipahami sebagai interaksi verbal pesan aktifitas komunikasi kelompok, misalnya sapaan atau menjawab sapaan sedangkan dimensi hubungan merupakan interaksi aktifitas nonverbal yang melekat dalam aktifitas komunikasi kelompok, misalnya berjabat tangan dalam menyapa atau membalas sapaan. Fisher sendiri memfokuskan interaksi dalam kelompok atau konteks komunikasi kelompok dari dimensi isi.

Dari pandangan Fisher ini, kita dapat memahami interaksi sebagai dasar proses komunikasi dalam kelompok yang mengubah input menjadi ouput dalam skema Model Input-Process-Output. Dalam bahasa yang lain, interaksi sebagai dasar pengolahan komunikasi kelompok yang bertujuan membentuk dan mengelola kelompok dari tradisi sibernetika.

Namun, dalam bahasan pandangan Fisher ini tidak terlalu fokus membahas perbedaan atau variabilitas dalam proses interaksi kelompok tadi. Oleh karena itu, topik keempat dalam pandangan Littlejohn komunikasi kelompok terkait terbentuk dan mengelola kelompok dari tradisi sibernetika adalah diversity.

Konstruksi teori dari topik diversity yaitu Effective Intercultural Work Group Theory; pemikiran dari John Oetzel menggunakan Model Input-Process-Output dalam memahami variabel atau perbedaan, lebih khusus perbedaan budaya, yang mempengaruhi kelompok, terutama untuk keefektifan kelompok dalam individu saling berkomunikasi. Oetzel mengkonstruksi model perbedaan budaya yang mempengaruhi keefektifan individu dalam komunikasi kelompok dalam skema Model Input-Process-Output dan hal ini melengkapi rangkaian kajian komunikasi kelompok mengenai terbentuk dan mengelola kelompok dari tradisi sibernetika sebagai lingkaran sibernetika yang utuh.

Perbedaan budaya yang dibahas oleh Oetzel dalam komunikasi kelompok berkutat pada tiga hal 1) individualism-collectivism, 2) self-construal, dan 3) face concern. Semua perbedaan budaya ini yang akan menentukan keefektifan proses komunikasi kelompok, semakin heterogen kondisi individu dalam kelompok maka semakin sulit keefektifan komunkasi kelompok dicapai. Kondisi ini yang akan menjadikan seberapa besar peran individu melakukan komunikasi kelompok dalam berpatisipasi, turut mengambil bagian keputusan, pengelolaan kelompok, dan respek dalam kelompok.

Febriansyah Trainer

Profesional Trainer, Writer, Entrepreneur, Blogger and Traveler

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: